"Edan ......gawat bener-bener gawat.......", cerocos Togog, mengoyak kenyamanan tidur Kiai Semar.
"Hhhuuua.....ada
apa sih Gog, ganggu orang tidur aja.....", tanya Kiai Semar sembari
membenahi posisi tidurnya yang terusik suara parau si Togog.
" Edan pokoknya edan Ki ....... masa' itu tuh ......edan.....", sengit Togog.
"
Edan opo toh Gog? edan gundulmu, gawat udelmu .........ngomong yang
jelas ", Kali ini Kiai Semar benar - benar mulai bersungut - sungut tapi
tetap mencoba untuk mengatur emosinya agar tidak tertular kepanikan si
Togog yang nggak tahu kena setan dari mana dia, nyerocos ngalur ngidul.
"Gini mbah..."
"Mbah udelmu bodong ....."
"
Sorry Ki, apa nggak edan coba? masa' Bima mau nyalonin diri jadi
presiden Ngastinapura nglangkahi hasil syuro para pandawa dan sesepuh
yang hanya merekomendasikan Yudhistira, bakal calon presiden
Ngastinapura. Coba Ki, apa nggak edan? "
" Lho yang jadi masalah apa Gog? sampe kau bela-belain panik kaya gitu...?"
"Gimana sih Ki, malah tenang-tenang aja....."
"Trus disuruh ngapain? teriak-teriak kesetanan kaya kamu.....?"
"Ya
nggak papa teriak-teriak asalkan itu memang yang harus dilakukan,
sebagai wujud keresahan atau lebih tepatnya kepedulian.....", elak
Togog.
"Kepedulian yang aneh ...... apa kau kira sebuah
kepedulian tidak bisa bersemayam di dada dalam keheningan, kebisuan,
bermesraan dengan kesunyian, mengendapkan hati, berfikir jernih .....",
terang Kiai Semar sok filosofis.
" Yowis, pokoknya
gawat..... dan Kiai Semar selaku sesepuh yang disegani oleh majelis syuro
Ngastinapura harus bertindak ......", Togog mulai kumat lagi.
"Bertindak
gimana, disuruh ngapain aku, lagian masalahnya di mana, wong Bima yang
ngajuin diri jadi presiden, kok kamu yang repot, atau jangan-jangan kamu
iri ya, pengin juga nyalonin diri jadi presiden?, ya udah nyalonin
sana ....", tanya Kiai Semar sembari tidur-tiduran.
"Kiai Semar Edan ....."
"Udah tahu gitu he...he..."
"Gini
Ki, mana itu persatuan jamaah? mana itu ketsiqo-an jundi? mana itu
materi -materi adabul jamaah, qiyadah wal jundiyah, mana? kalo untuk
masalah pilih-memilih presiden aja kita udah terpecah belah? apa semua
materi dauroh-dauroh itu menguap sedemikan rupa? hingga sekarang kader
dakwah kita hanya memahami aktivitas ini tidak lebih sebuah karier?
Jabatan, sebuah amanah, menjadi rebutan? gawat kan? ini tidak sekedar
masalah pemilihan presiden Ngastinapura periode ini, bisa jadi ini yang
terjadi di bawah dan kalo seperti itu berarti nasib buruk sudah menimpa
jamaah ini......",cerca Togog.
"Jangan sok generalis dan reaksioner kaya gitu dong Gog, pilah-pilih dulu masalahnya apa? berfikir out of box-lah....", Kiai Semar sok Intelek.
"
Trus gimana.......?", Togog mulai tenang tapi guratan emosi masih
nongol di wajahnya yang memang tidak bisa dibilang enak dipandang.
"Ya berfikir lah dari sisi lain... berfikir lah dari sudut pandang Bima misalnya (tepa saliro),
coba bayangkan bagaimana perasaan Bima waktu tahu kalo pada akhirnya
Yudhistira yang akhirnya dicalonkan oleh jamaah sementara saat Bima dan
para pandawa yang lain, kecuali Yudhistira, berjibaku menjaga
Ngastinapura dari tangan-tangan jahil dan kejahatan Kurawa dan
kroco-kroconya, dimana Yudhistira coba? dia lagi khusyuk tapabrata di
puncak gunung Kawi. Wajar kan secara manusiawi kalo Bima merasa lebih
layak? lebih mampu secara pengalaman dan pengamalan? lebih berjasa dan
patut untuk dicalonkan? minimal dengan pencalonan dia, baginya mungkin
itu adalah sebuah "reward" untuk pengorbannya, apalagi secara
personal pencalonannya sebagai bakal calon presiden Ngastinapura
merupakan hak asasi manusia, Bima manusia, seperti kita; seneng nasi
pecel Mak Dami, rawon mbak Sundari, nasi goreng magelangan mbak Yuli,
kopi joss cak Nari, dan kenikmatan-kenikmatan dunia lainnya termasuk
sebuah kepopuleran, sebagai seorang manusia Bima punya
keinginan-keinginan dan dari keinginan-keinginan itu Bima serta kita
semua punya jatah manusiawi keinginan itu dilabeli salah dan benar dan
kini tiba giliran keinginan Bima kita labeli salah", urai Kiai Semar
membuat dua alis Togog bertaut.
"Kok Kiai Semar jadi mbelain Bima? orang yang mbalelo? insilakh.....", Togog belum puas.
"Bukan
membela, dalam konteks jamaah, Bima memang salah, tapi menyadari sisi
manusiawi seseorang betapa pun ia seorang kader tulen, yang tingkat track record-nya tidak diragukan lagi, untuk dijadikan pertimbangan menyikapi suatu masalah adalah suatu keniscayaan...", lanjut Kiai Semar.
"
Trus Gimana? kita harus bangga dengan sikap Bima? dan ikut-ikutan
dukung Bima? kalo dasar pertimbangannya karena siapa yang berjasa,
banyak yang berjasa dan lebih mampu untuk mencalonkan diri;
arjuna, nakula, sadewa, petruk, gareng, atau siapa pun yang tidak ingin
Kurawa berkuasa di bumi Ngastinapura. Selain itu belajar dari siroh,
bukankah kebesaran Kholid bin Walid RA sebagai panglima perang muslimin
yang tidak terkalahkan tidak membuat ia mutung, ngambeg, bughot saat
Umar bin Khotob RA memecatnya dalam suatu peperangan ....?"
"Bukan
gitu, sekali lagi dalam konteks jamaah, Bima memang salah Gog, dan kalo
berhenti pada vonis salah maka kita telah mendholimi Bima", jawab Kiai
Semar.
"Mbulet.....", Togog tidak puas.
"Dukungan kita dan kader-kader yang lain wajib kepada Yudhistira, sekali lagi kepada YUDHISTIRA,
cuman untuk menyelamatkan Bima, agar tidak terlampau jauh dengan
pilihanya yang salah, maka langkah pertama yang harus kita lakukan
adalah dengan memahami keputusan Bima dari banyak angle yang sementara ini kita anggap salah tersebut, sehingga langkah-langkah persuasif kita tidak dengan mindset
bahwa Bima mutlak salah, sehingga penyelamatan itu berbahasa hati dan
ingatlah bahwa hati hanya bisa menerima sesuatu yang berasal dari hati
juga, bahasa kerennya menggugah sisi afeksi Bima. Kalo kau tanya
kenapa kita harus menyelamatkan Bima juga, "rival" kita, maka kamu
harus surut ke belakang untuk memahami hakekat aktivitas jamaah ini
sebelum berkoar-koar memvonis orang...", urai Kiai Semar sembari tak
henti-hentinya menguap.
" OK, sepakat .....berarti
tugas kita sekarang lebih me-"rakyat bawah"-kan Yudhistira agar bisa
diterima semua kalangan sehingga Yudhistira sukses untuk jadi presiden
Ngastinapura, dan soal Bima semua kader harus menjadikannya sebuah ibroh
bahwa aktivitas ini adalah aktivitas dakwah yang menafikan orientasi -
orientasi selain untuk ALLOH Azza wa Jalla.....bukan gitu Ki.....Kiai
semar.....?!!!".
" ZZZZZZZ BREWWWWRRRRRR.........."
"Dasar Semar gembul, semprul,........ngorok lagi ........", kata Togog sambil berlalu pergi. . . . Dari, Nol Kilometer
Aku adalah Togog,
penasehat para raja penguasa,
Meski mereka selalu beraroma angkara murka,
Aku terus bertutur meski mulutku berbusa,
Berkata kebenaran di depan penguasa adalah jihad mulia.
Sinuwun, kekuasaan menjadikan kronimu memperkaya diri,
Tetapi rakyat bukan lagi makhluk yang gampang dikelabui,
Rakyat kini lebih peka mata, telinga dan hati,
Mengkhianati rakyat adalah kebiadaban paling keji.
Sinuwun, akulah pemberi nasehat dengan segudang ilmu,
Tolong, jangan bodohi rakyat dengan wajah memelasmu,
Menjual kata fitnah untuk menutupi karakter peragu,
Membentengi para maling untuk menghilangkan malu.
Sinuwun, lihatlah parade rakyat yang benci perampok,
Karena narapraja berkomplot membuat hukum berbelok,
Menjual kehormatan karena rayuan uang segepok,
Lalu mencari oknum untuk dijadikan biang kerok.
Sinuwun, jangan engkau buat rakyat semakin bingung,
Pemimpin bangsa harus tegas, jangan mirip orang linglung,
Raja adalah khalifah Tuhan Yang Maha Agung,
Kalau engkau linglung, lebih baik engkau menjadi mBilung.
Sinuwun, tegakkan keadilan di jalan yang benar,
Karena penderitaan tak bisa membuat rakyat selamanya sabar,
Kesejahteraan harus mewujud, nyata, tak hanya samar-samar,
Kalau engkau benar, engkau akan disegani seperti Semar.
Sinuwun, jangan menebar ketakutan seperti pocong,
Hentikan adu domba, bungkamlah omong kosong,
Buktikan jika engkau bisa mengadili para garong,
Bila hanya omong kosong, engkau tak lebih baik dari Bagong.
Sinuwun, bersihkan istanamu dari golongan celeng,
Karena mereka itu perusak, mereka itulah pencoleng,
Durjana itu hanya membuat wajahmu jadi tercoreng,
Jika engkau oleng, engkau tak lebih baik dari seorang Gareng.
Sinuwun, lamat-lamat terdengar rakyatmu mengutuk,
Kecurangan telah membuat bendera negeri ini tertunduk,
Namun ketertindasan bisa membuat rakyat mengamuk,
Bila hanya bisa mabuk, engkau lebih rendah dari seorang Petruk.
Aku hanyalah Togog, tetapi aku bukan orang goblog,
Sinuwun, jangan hambat rakyat menulis aspirasi di blog,
Karena kinerja dewan wayang kini dinilai jeblog,
Jika engkau ikut-ikutan goblog, akau akan berhenti menjadi Togog.
. . .
Dari, Nol Kilometer
https://www.facebook.com/notes/r-yacob-christian-sihombing/cangkem-nya-si-togog/709453485773366 11 Maret 2014
Mampukah, aku yang tidak sempurna, juga dirimu yang tidak sempurna,
menciptakan sebuah kesempurnaan bagi kita dan anak-anak kita saja?
Kadang
aku ragu akan ketidak-sempurnaanku sebagai suami, sama ragunya aku pada
ketidak-sempurnaanmu sebagai istri. Kau tau, bahwa aku pada saat itu
masih sedang dipengaruhi oleh tabiatku, juga oleh ulah teman-temanku
yang sungguh keterlaluan menuang minuman itu di gelasku pada saat malam
melepas masa lajang. Dunia masih berputar di otakku hingga saat di
depan Romo Sri, untuk sekedar mengatakan "aku menerimamu sebagai istri
dalam suka maupun duka, hingga kematian memisahkan kita". Hingga saat
ini, ternyata duniapun masih tetap berputar, melewati hari, minggu,
bulan hingga tahun yang kita lewati bersama ataupun saat kau di sana
aku di sini.
Untuk
apa aku menjadi sempurna bagimu, dan kau sempurna bagiku? Apakah hanya
membuktikan bahwa terlalu banyak kekurangan yang kau temukan dalam
diriku, makin banyak kekurangan yang aku dapat di dalam dirimu?
Maaf atas segala ketidaksempurnaanku.
Untukmu: Veronica Septiana Kristianti....
https://www.facebook.com/notes/r-yacob-christian-sihombing/06-september-2012/442357675816283 6 September 2012
Tuankah bidadari dari kahyangan,
Wahai putri yang cantik,
Yang bagiku sama dengan ibuku,
Benar aku memandangimu ketika sedang menari,
Tetapi dengan satu alasan,
Tidaklah tepat jika ada perasaan-perasaan lain selain perasaan pada seorang ibu.
Aku bidadari,
Aku menikmati kemerdekaan yang sempurna,
Banyak bapak, anak dan cucu yang telah menikmati tubuhku,
Tanpa merasa terkena dosa,
Jangan kau usir aku,
Aku cinta padamu,
Terimalah aku.
Dengarlah,
Bagiku kau seorang terhormat,
Pandanglah aku sebagai anakmu,
Aku bersila di depan kakimu.
Karena kau menolak seorang gadis,
Yang datang kepadamu,
Dan juga karena didorong rasa cinta kepadamu,
Seorang perempuan yang dilanda asmara,
Kau akan menjalani hari-harimu tanpa menimbulkan berahi pada perempuan,
Mati pucuk,
Dicemooh.
Jangan khawatir,
Kutukan itu akan menolongmu pada tahun ketigabelas pembuanganmu,
Menjadi seorang banci sebelum kembali menjadi manusia wajar.
Wns, 28 April 2011
https://www.facebook.com/notes/r-yacob-christian-sihombing/dalam-catatanku-xxiii/183079048410815 30 April 2011
Benarlah, bahwa kasih sayang membinasakan yang satu, menolong yang lain,
Tetapi amarah yang dikendalikan mendatangkan hasil yang terbesar,
Amarah yang dipupuk mendatangkan keruntuhan,
Amarah ialah kesia-siaan,
Meniadakan surga,
Bagaimana dunia akan berjalan,
Jika pahit getir melahirkan pahit getir,
Jika hinaan dibalas dengan hinaan,
Kebencian dengan kebencian,
Jika bapak mencurigai anak,
Anak mencurigai bapak,
Jika tiada lagi saling percaya.
Memaafkan adalah satu-satunya kebaikan,
Memaafkan adalah pengorbanan,
Memaafkan adalah adat istiadat,
Memaafkan adalah kebenaran,
Memaafkan adalah penebusan dosa,
Ialah kesucian,
Memaafkan menjaga keutuhan dunia.
Janganlah membujukku untuk tidak memaafkan,
Memaafkan dan kelembutan adalah kearifan.
Wns, 28 April 2011
https://www.facebook.com/notes/r-yacob-christian-sihombing/dalam-catatanku-xxii/183078898410830 30 April 2011
Mengemis kepada pepohonan bagi santapanku,
Debu menyelimuti tubuhku,
Dan pepohonan dan reruntuhan rumah saja tempatku berteduh,
Tiada duka maupun sukacita menyentuhku,
Tiada lagi aku jadi munafik kembali,
Takkan naik darah lagi,
Tak lagi aku berbicara kasar,
Tak lagi berpikir peperangan,
Tak mengejek orang lain,
Kan kujalani sisa hidupku,
Penuh gairah tanpa rasa takut,
Teguh berhati lembut,
Didekap dalam kebebasan kasih sayang,
Tak lagi membeda-bedakan anak-anakku dari anak-anak orang lain,
Bahkan cacingpun kan kurengkuh bagai anakku.
Hanya akan kuikuti langkahku kemana membawaku.
Wns, 28 April 2011
https://www.facebook.com/notes/r-yacob-christian-sihombing/dalam-catatanku-xxi/183078761744177 30 April 2011
Ke utara, mencari cinta, Ke barat, mendapatkan harta,
Ke selatan, menuntut ilmu, Ke timur, memulihkan kekuatan.
Berdiam, Tapa, Tangan membentuk kuncup padma, Membunuh hasrat, Mematikan keinginan, Mendinginkan fikiran yang panas dalam puncak gunung es, Membeku dingin....
By : Don Sagundo Agemos Garamos
https://www.facebook.com/notes/r-yacob-christian-sihombing/dalam-catatanku-xv/169790689739651 5 Maret 2011
Pada saat duduk dibangku Sekolah Dasar, Ayah saya (penulis artikel
ini) pernah menceritakan suatu peristiwa kepada saya tentang jatuhnya “Pesawat Tentara Pusat” percis diladang padi milik oppung
pada saat itu. Penuturan sang Ayah bermula pada saat kami bekerja
diladang yang sering sekali menemukan peluru dengan panjang 5cm-20cm.
Peluru-peluru itu dikumpulkan lalu dibakar, takut-takut kalau
masih aktif. Demikian pula dengan potongan-potongan badan pesawat
berupa besi dan aluminium yang tertimbun di dalam tanah. Menurut Ayah
kami, pesawat itu jatuh setelah diawali oleh kabut hitam di udara yang
berasal dari badan pesawat, menukik tajam dan pecah terpisah menjadi
4-5 bahagian serta meledak dengan dahsyat. Pilotnya dibawa ke rumah
sakit di Saribudolok dan meninggal serta dimakamkan secara Katholik.
Masih menurut Ayah kami yang pada saat itu berumur 9 (sembilan)
tahun (dan semua orang tua di kampung itu khususnya yang berumur lebih
50 tahun) mengetahui peristiwa tahun 1958 itu dengan baik. Menurut
mereka, “Pesawat Tentara Pusat’ itu ditembak jatuh oleh ‘Gerombolan’ yang dipimpin oleh “Kolonel Simbolon” dari kolong rumah di Huta Tongah-sebuah desa yang jaraknya 52 Km dari Pematang Siantar menuju Kabanjahe. Lebih daripada itu, yang mereka ketahui adalah bahwa ’Kolonel Simbolon’ pada waktu itu adalah pemimpin PRRI-Permesta yang berseberangan dengan ’Tentara Pusat’ di Medan. Peristiwa tentang jatuhnya ’Pesawat Tentara Pusat’
itu hingga kini masih diingat segar oleh penduduk disana dan diwariskan
dari generasi ke generasi apalagi bagi keluarga kami, terutama oleh 4
(empat) orang Ayah bersaudara yang pada saat kejadian itu sedang
menjagai padi (mamuro) diladang.
Peristiwa Sejarah yang mereka ketahui seperti diatas tentulah
berdasarkan penuturan lisan yang mereka dapat sebagai respon terhadap
peristiwa yang baru saja terjadi. Atau pula karena peristiwa itu telah
terjadi relatif lama, maka penuturan lisan itu dipadu dengan buku-buku
pelajaran sejarah yang mereka baca. Tetapi yang menarik dari ’cerita’ diatas adalah terbentuknya ingatan kolektif masyarakat bahwa nama ’Kolonel Simbolon’ identik dengan ’gerombolan’ atau ’pemberontak’ yang tentu saja berseberangan dengan ’Tentara Pusat”.
Demikian pula, apabila buku Sejarah Nasional Indonesia ataupun buku
pelajaran sejarah khususnya Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB)
yang diprakarsai oleh Nugroho Notosusanto-mantan Menteri Pendidikan
Indonesia diperiksa maka nama Kolonel (Maludin) Simbolon (selanjutnya ditulis dengan akronim KMS) tercatat sebagai ’pemberontak’.
Dalam buku-buku itu, hampir tidak ditemukan ’kontribusi’ KMS dalam
membina dan memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Padahal, secara
jelas diketahui bahwa KMS memilih masuk menjadi militer-meninggalkan
pekerjaan sebagai guru-adalah akibat kesewenangan tentara Jepang yang
menangkap, menyiksa dan membunuh orang pribumi termasuk abang kandungnya
Johan Simbolon. Namun, dirinya kadung dianggap sebagai sosok pemberontak yang mesti disingkirkan dari panggung negara-menjalani karantina politik dan dinonaktifkan (dipecat) sebagai perwira militer.
2. Maludin Simbolon Hingga Tahun 1945
Maludin Simbolon adalah anak laki-laki kedua dari enam orang
laki-laki dan memiliki 10 orang saudara laki-laki maupun perempuan dari
pasangan Julius Simbolon dan Nursiah Lumbantobing. Dari nama ayahnya,
dapat diketahui bahwa keluarga itu telah menganut Kristen yang
disebarkan oleh die Rheinischen Missionsgesellschaft (RMG)
dimana Dr. I. L. Nommensen bekerja. Lahir pada tanggal 13 September 1916
dimana sang ayah sedang bertugas di luar Pearaja-Tarutung. Dikenal
sebagai anak ‘Mandur Pulo Tao’ dimana sang ayah bertugas sebagai mandor untuk mengurusi pekerja
di tempat peristirahatan Belanda. Kehidupan di Pulo Tao turut membentuk
kepribadian dan karakter Maludin Simbolon yang tegas, disiplin, teratur
dan hidup bersih. Pada masa kanak-kanaknya, Maludin Simbolon sudah
sering bermain bersama dengan anak-anak Belanda yang berlibur di Pulo
Tao.
Menamatkan pendidikan dengan prestasi terbaik dari sekolah HIS (Hollandsch Inlandse School)
yakni sekolah bergengsi pada saat itu di Narumonda pada usia 16 tahun
dengan menghabiskan masa sembilan tahun untuk menamatkan jenjang
pendidikan sekolah rendah. Tamat dari HIS, kemudian melanjutkan sekolah
ke Christelijke Hollandsch Inlandsche Kweekschool (Chr. HIK) yakni
sekolah guru di Solo dan tamat pada tahun 1938 dengan predikat terbaik.
Berangkat dari Belawan ke Tanjung Priok dengan menumpang kapal Koninkelijke Paketvaart Matschappij (PKM) yakni Perusahaan Pelayaran Kerajaan Belanda.
Tamat dari Chr. HIK Solo, kemudian menjadi guru sekolah HIS
di Kartasurya (Solo). Selama menjadi guru, berkenalan dengan seorang
bidan yang bekerja di poliklinik zending yang kelak menjadi istrinya.
Dari perkawinan itu, Ia dianugerahi dua orang putri dan tiga orang putra
yang kelima anak itu diberi dengan nama berkharakteristik Jawa.
Cita-citanya memperoleh ijazah dari Hoofdacte Cursus tidak
kesampaian berhubung pecahnya Perang Dunia II di Eropah terlebih pada
tanggal 10 Mei 1940 negeri Belanda telah diduduki pasukan Jerman. Ia
memutuskan untuk keluar dari sekolah HIS Solo, kemudian menjadi guru di
Curup. Selama di Curup, ia bertemu dengan Sucipto yang memperkenalkan
paham–paham nasionalisme khususnya berdasarkan pendapat Ir. Sukarno.
Kemudian dirinya semakin memahami kondisi sosial politik tanah air
terlebih setelah berlangganan dengan majalah ‘National Commentaren’ yang dibina oleh Dr. Sam Ratulangie yang dikenal dengan tokoh Pergerakan Kebangsaan dan anggota Volksraad.
Serangan fajar tentara Jepang ke Pangkalan Militer Angkatan Laut
Amerika di Pearl Harbour pada Desember 1941, telah mendorong lajunya
PD-II. Situasi dan kondisi di Indonesia beralih dari tangan Belanda ke
Jepang yang ditandai dengan mendaratnya sekitar 60.000 personel pasukan
Jepang di Batavia pada tanggal 1 Maret 1942 dibawah pimpinan Jenderal
Hithosi Imamura. Kedatangan tersebut telah memukul mundur pasukan
Belanda dari beberapa kota di Pulau Jawa dan mendorong lahirnya Perjanjian Kalijati pada tanggal 8 Maret 1942 berupa penyerahan kekuasaan dari Belanda kepada Jepang.
Pada saat itu terjadi massacre yakni pembunuhan
besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan Jepang terhadap kaum terdidik
dan pemuka masyarakat. Salah satu korban pembunuhan itu adalah Johan
Simbolon, abang kandung Maludin Simbolon yang bekerja sebagai pengawas
perusahaan minyak di Plaju, tewas setelah ditangkap dan disiksa oleh
Jepang. Atas kejadian itu, nasionalisme dalam diri seorang Maludin
Simbolon menjadi berkobar dan mendorong dirinya masuk sekolah militer Giyugun
binaan Jepang yang dibentuk terutama untuk menghadapi pasukan Sekutu.
Tamat dengan pangkat Letnan Dua dan ditempatkan di Markas Batalyon Giyugun
Sumatra Selatan bagian Pendidikan dan Pelatihan. Dirinya acapkali
dipakai sebagai penerjemah inspeksi pasukan Jepang ke daerah-daerah
sehingga banyak melihat kekejaman tentara Jepang terhadap bangsa
Indonesia. Keadaan itu, telah menimbulkan antipati dan kebencian yang
luar biasa terhadap Jepang dan bersama dengan temannya pernah
merencanakan pemberontakan terhadap Jepang. Namun, setelah mendengar
anjuran Dr. A.K. Gani rencana itupun dibatalkan. Masa berakhirnya
pemerintahan Jepang di Indonesia ditandai dengan penyerahan tanpa syarat
pasukan Jepang kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945.
3. Hingga Penyerahan Kedaulatan 1949.
Enam hari setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia, maka pada tanggal
23 Agustus 1945 dibentuk pemerintahan Republik Indonesia Keresidenan
Palembang dengan Dr. A.K. Gani sebagai kepala pemerintahan. Disamping
itu, sesuai dengan putusan PPKI di Jakarta turut pula dibentuk Badan
Penjaga Keamanan Rakyat (BPKR), Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah
dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Selanjutnya, atas prakarsa E.M.
Noor di Pagaralam dibentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang
anggotanya berasal dari perwira eks Giyugun, Kepolisian dan Heiho.
Pada saat itu, Maludin Simbolon ditetapkan sebagai Komandan Divisi
Palembang Ulu berpangkat Kolonel. Kemudian, atas prakarsa A.K. Gani,
pemegang mandat TKR se-Sumatra dibentuk badan yang mengkordinasikan TKR
se-Sumatra yang terdiri dari enam divisi dimana KMS ditetapkan sebagai
Komandan Divisi-I Sumatera Selatan/Lahat. Sementara untuk divisi IV
Sumatra Timur/Medan ditetapkan Kolonel Ahmad Taher dan divisi-VI
Tapanuli/Sibolga ditetapkan Kolonel Muhammad Din.
Pasca restrukturisasi TKR se-Sumatra, KMS sebagai Komandan Divisi-I
membentuk 4 resimen dan 15 batalyon di Sumatra Selatan. Akan tetapi,
markas divisi-I yang berada di pedalaman kurang mendukung perlengkapan
pasukan yang memadai seperti senjata, asrama, dapur umum, pengobatan
dan finansil pasukannya. Oleh karena itu, dua areal tambang yang
terletak di Divisi-I yakni tambang Batubara Bukit Asam dan Tambang Emas
di Bengkulu dioptimalkan potensinya. Pada bulan Juli 1946 diadakan rapat
Komandemen Sumatra untuk membentuk Staf Komandemen yang dilaksanakan di
Bukittinggi dan KMS ditetapkan untuk memegang bidang organisasi dan
operasi. Strategi jitu perang diperolehnya setelah membaca buku ‘On War’ karangan Clausewitz
yakni buku standar yang berisikan teori-teori perang yang ditopang oleh
penguasaan bahasa Jerman-nya yang cukup baik. Pada bulan itu juga,
KMS pindah ke Parapat bersama dengan dua orang personel staf komandemen
lainnya. Hal ini telah mendekatkan diri KMS dengan Gubernur Sumatra
yang berkedudukan di Pematang Siantar disamping untuk pembentukan
divisi-divisi diwilayah Sumatra bagian Utara yang kurang berjalan dengan
baik.
Pertemuan Staf Komandemen Sumatra yang berencana melakukan
restrukturisasi dengan komandan divisi Aceh, Tapanuli dan Sumatra Timur
menghadapi jalan buntu. Oleh karena itu, Staf Komandemen berencana
melebur divisi tersebut menjadi divisi Aceh dan Sumatra Timur dengan KMS
sebagai komandan divisi. Tetapi rencana tersebut gagal mengingat
sulitnya penyatuan tiga divisi terdahulu.
Prakarsa Inggris untuk mengatur perundingan antara Belanda dengan
Indonesia dimeja perundingan disambut baik oleh Sutan Syahrir sebagai
Perdana Menteri. Akan tetapi, sebelum ke meja perundingan terlebih
dahulu dicapai kesepakatan genjatan senjata. Dengan demikian, delegasi
militerpun disusun yang mewakili dua daerah utama Indonesia yakni Jawa
dan Sumatra dimana KMS ditetapkan delegasi wilayah Sumatra.
Selanjutnya, bersama dengan M. Jusuf (walikota Medan) berangkat ke
Pegangsaan Timur 56 dan melapor ke pimpinan TRI di Yogyakarta dan
Presiden Soekarno untuk menjelaskan keadaan di Sumatra. Dalam
pembicaraan genjatan senjata tanggal 20 dan 26 September 1946 dengan
Inggris, TRI menawarakan lima syarat. Tetapi, genjatan senjata tersebut
menemui jalan buntu. Perundingan genjatan senjata baru tercapai pada
tanggal 14 Oktober 1946 dan diratifikasi pada 1 November 1946.
Situasi yang sangat kacau dan pertempuran yang terjadi dimana-mana
mendorong Kepala Staf Umum TRI untuk membentuk tiga divisi TRI di
Sumatra yakni divisi VIII Garuda di Sumatra Selatan (Lampung, Bengkulu,
Pelembang dan Jambi) yang di komandoi oleh KMS, Divisi XI Banteng di
Sumatera Tengah (Sumatra Barat dan Riau) serta divisi X Gajah untuk Aceh
dan Sumatra Utara. Naluri militer KMS mendorongnya untuk mengadakan
persiapan-persiapan apabila suatu saat Belanda menyerang. Oleh karena
itu, dirinya senantiasa melakukan reorganisasi pasukan menjadi brigade
tempur serta inspeksi keseluruh daerah divisinya. Termasuk mengawal
Hatta yang disambut oleh Gubernur Sumatra Muhammad Hasan selama berada
dan berbicara pada rapat raksasa di Lahat.
Pasca penandatangangan perjanjian Linggarjati pada bulan
Maret 1947, keadaan di Indonesia bukan membaik tetapi justru lebih
memanas hingga pecahnya Agresi Belanda I pada tanggal 21 Juli 1947.
Agresi pertama ini sangat sukses bagi Belanda terutama dengan taktik
serangan cepat (blitzkrieg) dengan mudah menduduki kota-kota
utama di Jawa dan Sumatra. Namun demikian, mendapat kritik tajam setelah
mendengarkan pidato Syahrir di depan sidang DK-PBB pada 14 Agustus 1947
khususnya dari Amerika Serikat dan Inggris yang telah mengakui RI
secara de facto. Dampak daripada tekanan internasional itu,
telah memaksa Belanda-RI untuk meneken kembali perjanjian damai yang
dikenal dengan Perjanjian Renville pada 8 Desember 1947. Anggota komisi
militer perjanjian Renville dari wilayah Sumatra ditunjuk KMS
untuk segera berangkat ke Yogyakarta menemui Dr. Johannes Leimena
sebagai ketua Komisi Militer. Dalam keanggotaan itu Kolonel T.B.
Simatupang juga turut serta.
Keputusan perjanjian Renville adalah berupa 12 pasal persetujuan
politik yang diajukan Belanda dan 6 prinsip tambahan yang diusulkan
Komisi Jasa-jasa Baik. Keputusan Renville berakibat buruk bagi Indonesia
berupa pengerdilan wilayah-wilayah yang disebut dengan Indonesia.
Meski demikian, sesuai dengan perundingan itu maka untuk pelaksanaan
genjatan senjata di daerah, komisi-komisi militerpun dibentuk dan
sebagai pengawas dibentuk United Nations Commision for Indonesia(UNCI)
dimana KMS ditunjuk untuk membentuk komisi militer di wilayah Sumatra.
Disamping untuk membentuk komisi militer dalam rangka genjatan senjata
juga sekaligus penarikan garis perbatasan (demarkasi) yang memisahkan
kedudukan TNI dan tentara Belanda. Instruksi presiden pada tanggal 3
Juni 1947, dan perintah Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra)
untuk melebur TRI dan Laskar Rakyat menjadi TNI dimana Kolonel Nasution
diangkat sebagai Panglima Tentara dan Teritoirum Jawa (PTTJ) dan
Kolonel Hidayat di Sumatra banyak mendapat tantangan dari pasukan.
Persoalan di Tapanuli dengan membentuk Komando Subteritorium VII adalah
salah satu contohnya. Demikian pula persoalan di Subter II, III dan IV
yang masih menyebut SUBKOSS.
Setelah perjanjian Renville, kondisi tanah air belum juga pulih. Pada
tanggal 19 Desember 1948 muncul ancaman perang besar-besar yang
disiarkan oleh Agence France Press (AFP) dan Reuters. Ancaman
tersebut berubah menjadi kenyataan dan dikenal dengan Agresi Belanda
II. Khusus di wilayah komando KMS, rencana Belanda itu telah diketahui
oleh KMS dari ajudannya. Oleh karena itu, pasukan KMS meledakkan pabrik
minyak dan membakar kebun teh Belanda di Pagaralam serta meruntuhkan
beberapa jembatan untuk merintangi kedatangan Belanda. Pada saat itu,
keadaan Palembang sangat berkecamuk. Pemerintahan Sipil Sumatra
dipindahkan ke Muara Aman dan segera pada 22 Desember 1948 dibentuk
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dimana AK. Gani dan KMS
ditetapkan sebagai Gubernur militer dan wakilnya. Namun, akibat
gempuran tentara Belanda, maka pada tanggal 23 Desember 1948 pasukan KMS
di Palembang menyingkir ke Jambi.
Dampak agresi yang kedua ini, terutama pendudukan Belanda atas
Yogyakarta telah memaksa Belanda turun ke meja perundingan yang dikenal
dengan perjanjian Roem-Royen pada 7 Mei 1949. Perundingan ini
diawali oleh desakan mancanegara seperti DK-PBB, KAA di Delhi pada
20-23 Januari 1949 dan sangksi Amerika melalui Marshal Plan terhadap Belanda. Hingga pada akhirnya membawa Indonesia dan Belanda ke meja perundingan yang dikenal dengan Konferensi Meja Bundar (KMB)
di Den Haag pada 23 Agustus-2 November 1949 yang produk utamanya adalah
Republik Indonesia Serikat (RIS) dan penarikan tentara Belanda pasca
penyerahan kedaulatan.
4. Komandan Tentara Teritorium-I Bukit Barisan
Pada bulan Januari 1950, KMS diundang ke Jakarta untuk mendampingi
Presiden Sukarno bersama dengan Nasution dan Sungkono melakukan
kunjungan resmi ke India berkaitan dengan perayaan kemerdekaan India dan
diterima oleh Jawaharlal Nehru di Calcutta. Dari India terbang menuju
Karachi (Pakistan) terus ke Rangoon (Burma) dan kembali ke Jakarta.
Selanjutnya, terjadi strukturisasi personalia Markas Besar Angkatan
Darat (MBAD) dan Angkatan Perang. Dalam restrukturisasi tersebut,
Kolonel A.H. Nasution diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat dan
Kolonel T.B. Simatupang ditetapkan sebagai Kepala Staf Angkatan Perang.
Sementara KMS memegang jabatan di MBAD. Berdasarkan perintah Menteri
Pertahanan yakni Hamengku Buwono IX, KMS dipersiapkan ke Medan untuk
menggantikan Kolonel A.E. Kawilarang sebagai Komandan Tentara Teritorium
Sumatra Utara (Ko. TTSU) yang dipindahkan untuk menumpas Republik
Maluku Selatan (RMS).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1950, tentang pembagian
wilayah Republik Indonesia Serikat menjadi 10 propinsi, maka Sumatra
Utara ditetapkan menjadi salah satunya. Kondisi di wilayah paling Utara
di Pulau Sumatra itu terdapat tiga satuan wilayah dan pemerintahan,
yaitu Provinsi Aceh dan Sumatera Timur Utara, Propinsi Tapanuli dan
Sumatra Timur Selatan. Kemudian terdapat pula satu negara yakni Negara
Sumatra Timur (NST). Dua propinsi RI tersebut dibentuk dengan Peraturan
Pemerintah RI. No. 8/Des/WKPM Tahun 1949 sedangkan NST yang meliputi
Keresidenan Sumatra Timur mencakup Langkat, Tanah Karo, Deli, Serdang,
Simalungun, Asahan dan Labuhan Batu adalah bentukan Belanda. Demikian
pula yang tergabung dalam Propinsi Aceh dan Sumatra Timur Utara meliputi
Keresidenan Aceh dan Sumatra Timur Utara yakni Tanah Karo dan Langkat.
Sedang Propinsi Tapanuli dan Sumatra Timur Selatan meliputi bekas
Keresiden Tapanuli dan Sumatra Timur selatan yakni Deli, Serdang,
Simalungun, Asahan dan Labuhan Batu. Kondisi tumpang tindih kewilayahan
tersebut membuat penyatuan wilayah kedalam propinsi semakin sulit.
Namun, penyatuan wilayah tersebut menjadi Propinsi Sumatra Utara relatif
mudah setelah keluarnya seruan kembali ke negara kesatuan RI. Dengan
demikian, NST dengan sendirinya membubarkan diri dan Acehpun mau
menerimanya walau dengan berat hati.
Sejalan dengan penataan wilayah itu, KMS segera melakukan penataan
wilayah militernya. Tak lama setelah menjadi Ko. TTSU, KMS melakukan
perluasan wilayah hingga Sumatera Barat (divisi Banteng) dan Riau
(Divisi Babiri). Dengan perluasan itu, komandopun dirubah menjadi
Komando Tentara dan Teritorium-I (Ko. TT-I) yang di ikuti oleh perubahan
sebutan komandan menjadi Panglima. Tak hanya itu, KMS juga memberikan
nama Bukit Barisan dibelakang nama Ko. TT-I sehingga sebutan lengkapnya
adalah Komando Tentara dan Teritorium-I Bukit Barisan. Nama
Bukit Barisan, dipilih dan ditentukan oleh KMS untuk melambangkan
kekuatan yang mempersatukan wilayah komando dan Bukit Barisan sendiri
pernah menjadi basis pertahanan selama perang Gerilya. Diakuinya bahwa,
dirinya sebagai Panglima tetapi dipihak lain adapula Gubernur Militer
seperti FL. Tobing di Tapanuli dan Daud Bureuh di Aceh, Tanah Karo dan
Langkat. Oleh karena itu, KMS sering melakukan pembinaan komando dan
teritorial. Demikian pula dengan melancarkan operasi pembersihan ke
tempat dan daerah yang rawan keamanan mulai dari Simalungun, Karo dan
Deli Serdang dibawah sandi Operasi Sumatra Timur (OST). Demikian pula
sandi Operasi Sihar Hutauruk (OSH), sandi OTERI (Operasi Terra
Incognito) yakni pembersihan jalanraya dari Lhokseumawe hingga Kutaradja
Banda Aceh.
Tugasnya selaku Panglima TT-I Bukit Barisan sangat menelan waktu,
pikiran dan tenaga. Disamping harus melakukan operasi-operasi
pembersihan, juga harus menghadapi aksi pemogokan buruh yang beraliran
komunis di Belawan yang dilakukan oleh Sentral Organisasi Buruh Seluruh
Indonesia (SOBSI), demikian pula harus menghadapi pemberontakan Daud
Bureueh di Aceh pada tanggal 20 September 1953 pada saat Bung Karno
membuka Pekan Olahraga Nasional (PON) III di Stadion Teladan Medan.
Operasi pemulihan keamanan di Aceh langsung dibawah pimpinan Panglima
TT-I Bukit Barisan dengan sandi Operasi Biawak disamping dua operasi
lainnya. Keamanan di Aceh baru dapat dipulihkan melalui perundingan
damai di Helsinki pasca terjadinya gempa bumi di Nanggroe Aceh
Darussalam. Kelak, Komando Tentara dan Teritorium-I Bukit Barisan,
dikenal dengan Komando Daerah Militer (Kodam) Bukit Barisan, sebutan komandannya adalah Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Bukit Barisan.
5. Penutup.
Sosok dan ketokohan KMS dalam militer terutama dalam periode
1942-1950 terbilang sangat sukses. Dimulai dengan rintisan sekolah
militer Giyugun sampai menyandang sebagai Panglima TT-I Bukit
Barisan. Kiranya, sumbangsih dan kontribusi KMS untuk tanah
airnya-Indonesia-sangatlah besar terutama memasuki klimaks Indonesia
Merdeka dan sepuluh tahun pasca kemerdekaan itu.
Tulisan ini, bukan bermaksud menafikan apa yang sudah ’terlanjur dicatat’
seperti dalam sejarah Indonesia yang telah membentuk ingatan kolektif
terhadap dirinya, tetapi cenderung melihat keturutsertaannya dalam
menegakkan Indonesia. Ingatan kolektif masyarakat desa tentang penembak
jatuh ”Pesawat Tentara Pusat’ seperti dikampung itu adalah rekontruksi peristiwa yang sengaja ditempelkan dalam upaya menumbuhkan ’keindonesiaan’. Kini, pastilah seorang KMS tidak mengharapkan rehabilitasi atas keterlanjuran itu, atau juga menginginkan ’Maha Putra Utama’
atas jasa-jasanya. Tetapi, kalaulah seorang KMS boleh berharap,
barangkali ia akan mengajak 220 juta orang penduduk Indonesia untuk
melihat kembali peristiwa sejarah itu, karir militernya dan
perjuangannnya terhadap Indonesia secara komprehensif dan jujur.
Persoalan ’terlanjur dicatat’ itu adalah sisi lain yang harus
dilihat secara objektif. Masalahnya adalah, sampai seberapa dapatkah
kita mampu melihatnya secara objektif?.
Oleh: Erond L. Damanik, M.Si Penulis adalah peneliti di Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan
https://donsagundoagemosgaramos.wordpress.com/2016/03/05/kolonel-maludin-simbolon-ingatan-kolektif-masyarakat-terhadap-jatuhnya-pesawat-tentara-pusat-di-huta-tongah-2/
Posted on
Berawal dari sebuah kisah dalam cerita pewayangan.
Konon, jaman dulu di pulau Srilangka ada beberapa negara kecil.
Seringkali negara-negara kecil tersebut saling berperang memperebutkan
wilayah. Diantara negara-negara tersebut ada negara kecil Alengko dengan
Rajanya Prabu Somali. Putri sulungnya bernama Dewi Sukesi telah
menginjak remaja dan sudah saatnya menikah. Raja Danarjo dari kerajaan
Lokapala yang juga di pulau Srilangka tertarik dengan Dewi Sukesi.
Kehendak Sang Prabu dilambari motif politis. Ia ingin Alengko dimerger
dengan Lokapala.
Dewi Sukesi yang hanya sedikit lebih ayu dari Omas atau Yati Pèsèk,
punya syarat, ia mau dinikahi asalkan diajari ilmu Sastro Jendro
Yuningrat Pangruwating Diyu. Sebuah ilmu yang wingit & pelik.
Untungnya Prabu Danarjo anak begawan Dr. Wisrowo yang profesor emeritus
kesusastraan dan rektor dari Universitas Girijembangan. Segera
dipersilahkannya Woro Sukesi untuk mengikuti kuliah Bopo wiku. Karena
anak Raja, Sukesi mendapat keistimewaan kuliah khusus sendiri.
Sebenarnya nilai Sukesi pas-pasan, kebanyakan C, beberapa C+, dan ada
yang C-. Selain kuliah Sastro Jendro yang jadi kuliah pokok, Woro
Sukesi juga diizinkan kuliah minor. Boleh Fisika Quantum, Kimia,
Geografi, Elektronika, Hukum, dll. Karena kuliah sudah masuk semester
III, Sukesi diizinkan masuk ke perpustakaan pribadi Sang Resi. Semua
naskah diperbolehkan dipelajari kecuali sebuah kitab yang diberi warna
biru. Buku sakral ini bukan untuk perjaka & perawan. Sebagai
mahasiswi yang patuh, Sukesi tidak pernah berupaya mempelajari buku
tersebut.
Pada suatu malam yang kelam Sang Resi berkenan memberikan kuliah
minor. Dititahkannya Sukesi mencari textbook di perpustakaan pribadinya,
apa saja yang ingin dipelajarinya. Waktu itu hujan rintik-rintik dan
banyak angin. Suasananya kekes, mendung dan mulai gerimis. Dengan
takut-takut, Woro Sukesi ke perpustakaan yang terletak jauh dari ruang
kuliah pribadi. Ketika sampai di perpustakaan, Hyang Bayu – dewa angin –
berkelebat dan… byarpet… listrik mati, PLN mematikan jaringan. Di luar
angin mendesis, gerimis makin deras. Tergesa-gesa Sukesi yang dasarnya
penakut sekenanya mengambil sebuah buku. Kemudian ia berlari-lari kecil
kembali ke ruang kuliah pribadi. Takut kudanan.
Wiku Wisrowo dengan telaten dan penuh kesabaran mengajari Sukesi yang
IQ-nya pas-pasan. Diluar hujan dan hawa terasa adem. Di dalam ruang
belajar dian berkebat kebit kena angin. Terpaksa mereka duduk
berdempetan agar bisa membaca kitab itu dengan lebih baik. Entah apa
yang terjadi, kedua insan yang umurnya terpaut jauh tiba-tiba menjadi
berdebardebar. Nafas menjadi sesak. Buku apa ini, wingit betul ? Embuh,
kedua insan itu seolah tidak siuman meneruskan pelajaran dengan lebih
nggethu.
Malam makin larut dan kedua insan itu makin asyik. Mereka merasakan
sebagian badannya kruget-kruget abuh (bengkak) padahal tidak ada tawon
kemliwat. Ketika sampai tahap ‘praktikum’, nafas makin ter-sengal-sengal
! Wé ladhalah …..
Dan . . .
Begitulah kedua insan itu terhanyut meneruskan ‘praktikum’ sampai
posisi-posisi akrobatik. Sampai-sampai Bopo Resi jatuh krengkangan. Lha,
wis kèwut jé. ‘Praktikum’ dilakukan ber-ulang-ulang semalaman sampai
keduanya kotos-kotos mandi keringat.
Keesokan paginya, guru-murid itu teler kelelahan saling berpelukan
dalam keadaan nglegeno. Betapa kagetnya dua insan itu. Apa yang telah
terjadi semalaman ? Blaik, …. ternyata buku yang tadinya ingin
dipelajari adalah MENCINTAI, ternya adalah BERCINTA ! Karena mempelajari
Sastro Jendro Yuningrat Pangruwating Diyu, kedua insan itu menemui
bilahi jadi birahi. Wah, wis kebacut ! Bablaské sisan, pénak jé !
Gara-gara salah mengambil buku, kuliah Sukesi tersendat karena buntang
bunting terus, sampai anaknya enam. Bukannya mendapatkan ijasah, malah
anaknya pating jredhul.
Bukan alang kepalang marahnya Prabu Donopati ketika mengetahui bahwa
calon bininya bunting karena dikeloni bapaknya sendiri. Dengan berang
Sang Prabu melabrak ayahnya yang trondholo di Universitas Girijembangan.
Jedher ! Pintu kantor rektor ditendangnya dengan sekuat tenaga.
“ Bopo wiku, sampéyan ini bagaimana, sih ? Katanya kuliah sastra kok malah muridnya dikeloni ? “
“ Sareh, ngger, silahkan duduk …. “
“ Sudah, nggak usah basa basi, … biar saya berdiri saja, … kok malah nyinau yang saru-saru itu pripun, Bopo Resi ? “
“ Lha, aku sendiri samasekali tidak nggraito apa-apa. … aku kira
sedang belajar anatomi bagian sarap-sarap sensitip … jebul malah kena
bilahi … eh kleru … kena birahi “
“ mesthinya sampéyan ini mbok nyebut to, wong sudah kèwut. Harusnya
berdoa di sanggar pamujan di senjakala usia, menunggu kedatangan Sang
Hyang Yomodipati. Kok malah … “
“ Umur itu dumunung dalam pikiran, ngger. Kalau kita berpikir masih
muda maka kita akan serasa masih muda. Kalau kita masih merasa going
strong, tidak ada yang bisa ngaru biru. Kulawik, anak Prabu, yang harus
sering ke sanggar pamujan bukan yang kèwut- kèwut tetapi justru yang
masih muda2 … “
“ Bopo wiku, saya ini sedang marah. Saya kesini bukan untuk kuliah …
cewek yang masih belasan tahun kok sampéyan keloni itu rak tidak etis
to, kanjeng Resi ? Maksud saya, biar saya peram, kok malah sampéan
brakoti dhéwé. “
“ aku terima salah anak Prabu. Tetapi ketauilah bahwa yang namanya
cinta itu buta. Tidak memandang usia. Bisa saja aku yang sudah kèwut
jatuh cinta dengan ABG .. “
“ sudah, sudah, sudah, … saya tidak butuh wejangan, terus anak-anak haram itu piyé … ? “
“ hus ! Tidak ada yang namanya anak haram. Yang ada ortu haram jadah seperti ané. “
“ Mesthinya anak polah Bopo kepradah atau anak bertingkah bapak
lintang pukang. Ini kok kulawik. Bopo polah anak kepradah – babe
macem-macem, anak jadi heboh “
“ Ho’ oh, ya …. “
“ wis, wis, wis, …. tak tigas janggamu ! “
Dengan sepenuh tenaga ditikamkannya senjatanya ke Resi Wisrowo namun
sampai berulangkali tetap tidak bisa melukai. Lama kelamaan Sang Prabu
Donopati kelelahan sendiri. Donopati merasa sangat malu dengan perilaku
ayahnya yang malah ngeloni calon menantunya. Tetapi ia tidak berdaya,
wiku Wisrowo terlalu sakti, ia tidak bisa bahkan hanya untuk melukai
ayahnya. Akhirnya Donopati putus asa dan ia minta ayahnya membunuhnya
karena ia tidak tahan dirundung malu punya ayah seperti itu. Tentu saja
Sang Begawan menolak membunuh putranya. Saking marahnya, Prabu Donopati
mem-bentur-benturkan kepalanya ketembok sampai berdarah-darah.
Begawan Wisrowo serba salah. Disatu sisi ia sangat mencintai bini
mudanya dan ingin mengecap madunya hidup dengan kembang yang sedang
mekar itu. Disisi lain ia adalah pendhito yang seharusnya malu bersikap
seperti itu. Ia juga sedih melihat betapa anaknya yang dikasihinya
hancur mentalnya. Akhirnya, pupus sudah hati Sang wiku. Ia iklas
melepaskan kehidupan sorgawinya dengan bini mudanya. Ia iklas menebus
kesalahannya kesalahannya dengan ajalnya. Dengan tenang dicopotnya rompi
kebalnya, yang dibelinya di Toko Ramai Ngalioboro. Ia sekarang tidak
lagi digdoyo. Kemudian Sang wiku membentak putranya
“ Bocah gembèng ! Begitu saja nangis kayak anak kecil. Itu bukan
sikap Raja. Memalukan sekali ! Akupun malu punya anak seperti itu ! Anak
gembus ! Ayo, gunakan senjatamu … bunuhlah aku … kalau bisa ! “
Ditantang seperti itu, kemarahan Donopati meledak lagi. Dengan sekuat
tenaga ditusukkannya kerisnya ke dada ayahnya. Blesss, keris menancap
telak didada sepuh wiku Wisrowo. Pabu Donopati terpekur memandang
jenasah ayahnya. Ia tidak menduga kejadiannya akan seperti itu. Semula
ia hanya berniat meledakkan kemarahan dan sama sekali tidak ada
keinginan membunuh ayahnya. Tetapi semua berlangsung begitu cepat dan
diluar dugaannya. Yang tersisa adalah getun …..
Disadur dari: Bilahi Birahi di Girijembangan
Karya: S.Brotosumarto
https://donsagundoagemosgaramos.wordpress.com/2016/02/14/mencinta-bercinta/
Posted on